Rizal: Km 17 Ditutup, Jangan Dulu Senang Program GF Selesai, APBD untuk HIV/AIDS Ditambah

 


BALIKPAPAN -  Wali Kota HM Rizal Effendi SE meminta kepada pihak-pihak terkait untuk mempersiapkan diri guna mengantisipasi berakhirnya program penanggulangan HIV/AIDS di pengujung 2015 yang dilakukan Global Fund (GF) bekerja sama dengan Nadhlatul Ulama (NU) dan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). Di Kaltim, GF melaksanakan penjangkauan dan dukungan terhadap kelompok berisiko tertular HIV/AIDS di tiga daerah yakni Balikpapan, Samarinda dan Tarakan.
 
“Sebenarnya Juni 2015 ini program GF selesai, tapi akhirnya diperpanjang mengingat pemerintah belum memiliki kesiapan dukungan dana,” ungkap Pimpinan Sub-Recipient (SR) NU Kaltim, Mujek Tohid AS.
 
Saat pembukaan pelatihan bagi koordinator dan penjangkau lapangan di Hotel Mega Lestari, Senin (2/3), Mujek berharap, pemerintah daerah khususnya Balikpapan dapat melakukan persiapan berupa penyusunan program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS seiring bakal berakhirnya program GF.
 
“Nadhlatul Ulama digandeng karena dalam penanggulangan HIV/AIDS peran tokoh agama dan kiai sangatlah penting. Salah satunya terkait sosialisasi pemakaian kondom yang khusus untuk kelompok berisiko, bukan sembarangan,” terangnya.
 
Bagi sebagian masyarakat bahkan di kalangan NU sendiri, aku Mujek, masih ada yang salah persepsi tentang pemakaian kondom untuk mencegah penularan HIV/AIDS. Hal yang sama terjadi ketika NU digandeng untuk mengampanyekan kondom sebagai alat kontrasepsi. “Sekali lagi pendistribusian kondom itu hanya sebatas pada kelompok berisiko yakni WTS, LSL atau gay, lelaki berisiko tinggi, pengguna jarum suntik, serta waria. Bukan sembarangan,” tegas Mujek.   
 
Wali Kota Rizal memberi apresiasi tinggi kepada para relawan yang bertugas melakukan penjangkauan. Mereka adalah pelaksana lapangan penanggulangan HIV/AIDS yang dilakukan NU bekerja sama dengan PKBI melalui pembiayaan GF. Orang nomor satu di Kota Madinatul Iman ini berjanji akan menambah alokasi anggaran bagi penanggulangan HIV/AIDS melalui APBD Balikpapan. “Km 17, Manggar Sari memang sudah ditutup, tapi jangan dulu senang. Dampaknya berupa HIV/AIDS harus ditanggulangi. Oleh karena itu, tahun depan dana penanggulangan HIV/AIDS lewat APBD akan kita tambah,” janji Rizal Effendi.
 
Hadir dalam pembukaan pelatihan kemarin, Kepala DKK dr Balerina, Kepala Disnakersos Tirta Dewi, Sekretaris BPMPPKB Pratitis , perwakilan Satpol PP Salam, NU Balikpapan Damuri beserta anggota dan KL Penjangkauan HIV/AIDS Kaltim, Muran Gautama. Kendati dua lokalisasi besar di Balikpapan sudah ditutup, Rizal mengakui transaksi seksual secara ilegal tetap berlangsung secara sembunyi-sembunyi.
 
Dampak lainnya adalah banyaknya wanita tuna susila (WTS) yang turun ke jalan. “Satpol PP datang, prostitusi di eks lokalisasi langsung tutup, tapi begitu aparat pergi prostitusinya buka lagi.
 
Saya tidak tahu, apakah memang ada oknum aparat yang sengaja membocorkan sehingga saat razia ketahuan duluan atau bagaimana,” ungkap wali kota.
 
Di sela acara, Rizal menginstruksikan jajarannya untuk mendukung program penjangkauan yang dilakukan para relawan PKBI dalam penanggulangan HIV/AIDS di Kota Balikpapan. Wali kota meminta adanya sinergi program tak hanya HIV/AIDS tapi juga penanggulangan para pengguna jarum suntik serta anak-anak yang menjadi korban kecanduan ngelem. (yud)